Teologi Gereja RK
Pada pembahasan ini akan dijelaskan mengenai Teologi yang terdapat dalam Gereja RK yang dimana di dalam nya terdapat Latar Belakang, Teologi tentang Paus, Teologi tentang Sakramen, Teologi mengenai Abad-abad Pertengahan, semoga pembahasan yang disampaikan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Tuhan Yesus Memberkati.
II. Pembahasan
II.1 Latar Belakang
Gereja Katolik, yang secara luas sering juga disebut Gereja Katolik Roma, adalah Gereja Kristen terbesar di dunia, dan diperkirakan memiliki 1,8 miliar jemaat, yakni lebih dari setengah seluruh umat Kekristenan dan seperempat dari populasi dunia. Gereja Katolik adalah sebuah komuni (persekutuan) dari Gereja Katolik Ritus Barat (Gereja Katolik Roma) dan 23 Gereja Katolik Timur, yang membentuk 2.795 keuskupan pada 2008. Ke-24 Gereja-Gereja ini disebut sebagai gereja-gereja partikular). Gereja Partikular dengan jumlah umat terbesar dalam Gereja Katolik adalah Gereja Katolik Ritus Barat/Ritus Latin/Gereja Katolik Roma. Gereja Partikular dengan jumlah umat ke-2 terbesar dalam Gereja Katolik adalah Gereja Katolik-Yunani Ukraina. Otoritas duniawi tertinggi Gereja ini dalam perkara iman, moral dan pemerintahannya adalah Sri Paus, saat ini Paus Fransiskus, yang memegang otoritas tertinggi bersama-sama Dewan Uskup, yang diketuainya. Komunitas Katolik terdiri atas seorang pelayan-umat tertahbis (rohaniwan) dan umat awam; baik rohaniwan maupun umat awam dapat pula menjadi anggota dari komunitas-komunitas religius.
II.2 Teologi Tentang Paus
Pada tahun1891 Paus Leo XIII menyatakan dalam suatu ensiklik bahwa “tidak ada yang dianugerahkan kepada kita kecuali melalui Maria, sebagaimana dikehendaki oleh Allah sendiri. Oleh sebab itu, sebagaimana tak seorang dapat menghampiri Bapa yang Mahatinggi kecuali melalui Sang Anak, begitu pula kita hampir-hampir tidak dapat mendekati Sang Anak kecuali melalui Ibunda-Nya.”
Seperti dengan doktrin pembuahan Maria dalam kandungan ibunya secara tak bernoda, yang dirumuskan pada tahun 1854. Ajaran ini tidak didukung oleh Alkitab dan juga tidak didukung oleh tradisi awal, meskipun kedua itu dikatakan merupakan “dasar-dasar paling utama”. Konstitusi rasuli lebih menekankan “keserasian teologis” doktrin itu serta kesepakatan kontemporer dalam Gereja Katolik Roma. Sama dengan doktrin pembuahan secara tak bernoda, rumusan ini menunjukkan kesanggupan Gereja untuk menyatakan suatu ajaran berdasarkan wewenangnya sendiri, tanpa dukungan Alkitab ataupun tradisi lama.
Dogma ini seperti juga dogma-dogma lain mengenai Maria, berhubungan dengan pengertian dari Yesus Kristus. Perdebatan-perdebatan pada abad-abad ke-4 dan ke-5 menghasilkan penegasan yang lebih jelas mengenai keallahan Yesus Kristus. Dalam teori kemanusiaan-Nya yang sepenuhnya juga dinyatakan waktu itu (misalnya pada Konsili Chalcedon), tetapi dalam praktek ajaran ini terdorong oleh keallahan-Nya. Yesus tidak lagi dilihat sebagai seseorang yang benar-benar mengalami godaan seperti kita, namun tidak berbuat dosa (seperti dalam Ibr 2:17-18; 4:14-16). Kesalehan rakyat membutuhkan seseorang di surga yang benar-benar dapat mengerti dan ikut merasakan kelemahan manusia. Sebab kemanusiaan sepenuhnya dari Yesus Kristus sedang diabaikan, maka timbullah ajaran-ajaran yang keterlaluan mengenai Maria.
II.3 Teologi Tentang Sakramen
II.3.1 Sakramen
Sejak abad ke- XIII Gereja Roma mengakui tujuh sakramen, yaitu perjamuan, babtisan, konfirmasi, pengakuan dosa, urapan penghabisan, nikah dan tahbisan imam. Dengan sakramen-sakramen ini gereja membimbing manusia dari kecil sampai ke kuburannya. Menurut ajaran Gereja Roma, rahmat dan keselamatan hanya boleh disambut dicurahkan zat rahmat dari atas, untuk memasuki,memenuhi, menyucikan dan menyelamatkan manusia lahiriah-batiniah. Imamlah yang berkuasa membuka atau menutup aliran anugerah (kasih-karunia) itu. Berikut penjelasan dari ketujuh sakramen itu.
1. Perjamuan (misa, sakramen mahakudus, sakramen alter, ekaristi). Berdasarkan dogma transsubtansiasi, roti yang telah ditahbiskan itu di puja oleh jemaat selaku Tuhan sendiri. Roti suci itu bernama hostia. Sesudah misa, hostia disimpan dalam “rumah sakramen”, yang terdapat di atas atau di sebelah mezbah. Itulah sebabnya orang K.R. membuka topi waktu melalui sebuah gedung gereja, dan bertelut ketika mereka masuk gereja dan lagi tiap-tiap kali mereka melalui mezbah. Adakalahnya diadakan “prosesi (perarakan) sakramen”, yaitu hostia diarak-arakkan keliling kota dalam suatu tempat yang elok, yang dibawa oleh seseorang imam, yang berjalan di bawah sebuah paying kehormatan.
2. Babtisan. Bagi gereja romawi, babtisan itu bukan kiasan dari pembasuhan dosa manusia oleh darah Kristus melainkan babtisan itu sungguh-sungguh menghapuskan dosa turunan dan segala dosa yang diperbuat oleh orang itu sendiri. Sebelum manusia dibabtiskan, dosa turunam dan segala dosa yang diperbuat oleh orang itu sendiri. Sebelum manusia dibabtiskan, dosa turunannya masih melekat kepadanya sehingga ia berada di luar lingkungan rahmat dan keselamatan, dan pasti akan binasa. Berkenan dengan anggapan itu gereja roma mengizinkan babtisa darurat, jikalau seorang mau meninggal dunia dan tak dapat dipanggil lagi.
3. Konfirmasi (sakramen penguatan). Sakramen ini menyusul babtisan dan berdasar pada Kis. 8:14-17. Maksudnya ialah menguatkan iman dan mengaruniakan Roh Kudus. Konfirmasi itu dilakukan dengan membuat tanda salib pada dahi dengan minyak suci dan dengan meletakkan tangan pada orang yang menyambutnya. Hanya seorang uskup saja yang boleh melaksanakan itu.
4. Pengakuan dosa. Sakramen itu terdiri atas tiga bagian:
a. Penyelsan batin yang sungguh, 2. Pengakuan dosa dengan mulut di hadapan iman, yang memberi absolusi (kelepasan dari dosa) atas nama Tuhan, karena ia mendapat “kuasa anak kunci” itu dari tangan Tuhan sendiri menurut Mat. 16:19, 3. Penebusan dosa dengan amal, atau penintensia. Dengan sakramen ini imam dapat memelihara dan menguasai jemaat dengan baik sekali. Bagi banyak dengan sakramen itu menyebabkan pula, bahwa keampunan itu dipermudah, atau orang tinggal meragukan saja apakah dosanya benar-benar sudah dihapuskan .
b. Perminyakan (sakramen orang sakit). Berdasar pula suatu kebiasaan dalam jemaat yang mula-mula, yaitu orang sakit didoakan dan diurapi oleh ketua-ketua (Yak. 5:14). Kemudian pengurapan ini menjadi sakramen resmi. Imam melakukan sakramen ini kepada orang sakit yang akan meninggal, dengan membunuh minyak suci pada mata, telinga, hidung, mulut, tangan, dan kakinya. Diberi pula perjamuan penghabisan keapda si sakit itu sebagai bekal untuk perjalanannya menjelang hidup yang buka.
c. Perkawinan. Oleh karena pengaruh pandangan hidup kafir yang dualistism, maka dari mulanya gereja menganggap tubuh dan segala hal yang mau menuju kepada kesempurnaan sudah barang tentu harus mematikan seorang Kristen yang mau menuju keapda kesempurnaan sudah barang tentu harus mematikan tubuhnya dan bertarak sedapat-dapatnya. Makin ditindas hidup badani dan jasmani, makin suci dan rohanilah suasana, tempat jiwa manusia dapat bernapas. Sebab itu hidup selibat dipesankan bagi seorang klerus. Kaum awam boleh kawin, sebab untuk mereka berlaku syarat-syarat kebajikan yang lebih ringan. Tetapi dalam pada itu nikah. Yang termasuk hidup kodrati (alamiah), perlu dipertinggi derajatnya dan dikuduskan oleh rahmat dan berkat Tuhan, yang dikaruniakan kepada suami-isteri dengan perantaraan gereja yang diakui sah oleh Gereja Roma. Nikah resmi dihadapan pegawai pemerintah tidak dipandang nikah yang disahkan oleh Tuhan.
d. Tahbisan imam. Segala sakramen tadi disampaikan kepada jemaat dengan tangan iman, karena dialah yang disanggupi untuk jabatan suci itu dengan suatu tahbisan istimewa. Oleh tahbisan itu ia menjadi satu-satunya pengantara, yang dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan rahamatnya kepada manusia. Sebab itu sakramen tahbisan imam menjadi batu-alas bagi seluruh bangunan Gereja Roma. Segala hak dan kuasa rasul-rasul dikaruniakan kepada imam menurut dogma suksesi rasuli. Dengan demikian sakramen ini tidak dapat ditiadakan lagi. Sekali imam tetapi imam, walaupun ia murtad atau masuk sekta atau dipecat. Ingatlah pertikaian gereja dengan sekta Donatis tentang hal ini.
II.3.2 Transubsransiasi
Ajaran ekaristi bahwa roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Tampaknya memang hanya roti dan anggur saja, namun sesungguhnya mereka telah jadi tubuh dan darah Kristus. Jadi, mereka yang menerima elemen-elemen ekaristi juga memakan tubuh dan meminum darah Kristus. Konsili Lateran menetapkan bahwa ajaran Transusbsransiasi merupakan ajaran gereja yang benar tentang ekaristi.
II.3.3 Api Penyucian
Api penyucian merupakan tempat di antara surga dan neraka, dimana orang yang tidak cukup jahat untuk dibuang ke neraka, tetapi yang belum cukup suci untuk langsung masuk sorga. Itulah yang sangat ditakuti orang banyak pada saat itu. Mereka melaksanakan latihan yang diperintahkan oleh iman kepada mereka, seperti berpuasa, sekian kali mengangkat doa “ Bapa kami dan “ave maria”.
II.3.4 Relikwi-Relikwi
Kalau usaha-usaha sendiri itu dianggap belum memadai, maka diharapkan pengantaraan orang-orang santo, terutama Maria. Mereka dianggap berjasa terhadap Tuhan dalam hal amalan-amalan mereka, yang jauh melebihi jumlah amalan-amalan yang perlu untuk masuk surga. Maka mereka dapat berdasarkan jasa itu, menjadi pengantara kepada Tuhan bagi orang-orang malang yang masih berada di bumi. Beragam-ragam benda peninggalannya di puja juga, misalnya tulang, rambut, pakaian, dan lain-lain. Relikwi-relikwi ini pun disangka orang mengandung khasiat anugerah yang istimewa. Jemaat juga akan percaya bermacam mujizat yang diadakan oleh Maria dan orang-orang santo atau yang sudah terjadi dengan perantaraan relikwi, anggur misa, air babtisan dan sebagainya.
II.3.5 Penghapusan Siksa (Indukgensia)
Sejak abad ke-11, gereja mulai menawarkan keuntungan kepada orang. Siapa yang telah menyesal dan mengakui dosanya dapat dibebaskan dari hukum dalam api penyucian. Berdasarkan jasa para santo, tetapi ia harus memberi suatu balasanya. Prakteknya ialah bahwa orang dapat membeli surat penghapusan siksa atau Indukgensia dengan tidak mengingat penyesalan dan pengampunan dosa yang harus mendahului pembebesan dari hukuman.
II.4 Teologi Abad-abad Pertengahan
Pada zaman Gereja lama orang-orang Yunani dan Romawi yang telah masuk Kristen, mempergunakan pengetahuan dan filsafat Yunani. Karangan-karangan itu, terutama yang dari plato dan Aristoteles, mengandung pikiran-pikiran yang berlainan dengan ajaran gereja. Maka itu, yang menjadi cita-cita teologi Abad Pertengahan ialah menyelaraskan ajaran gereja itu dengan filsafat Yunani. Aliran teologi itu kita sebutkan teologi skolastik.
II.5 Tokoh-tokoh Abad Pertengahan
Berikut adalah beberapa tokoh-tokoh pada abad pertengahan yang menggunakan ilmu teologinya pada masa itu:
Anselmus dari Canterbury (1033-1109).
Adalah seorang teolog dan filsuf yang hidup pada abad pertengahan. Ia adalah seorang yang sangat terkemuka diantara pemikir-pemikir Skolastik. Anselmus dilahirkan pada tahun 1033 di Aosta, Italia. Ayahnya adalah bangsawan di Italia yang bernama Gundulph dan ibunya bernama Ermenberga. Karya Anselmus yang paling ambisius adalah Cur Deus Homo (Mengapa Allah Menjadi Manusia) yang ditulis pada tahun 1090-an. Anselmus menjawab bahwa memang mutlak perlu Allah menjadi manusia dan mati demi menyelamatkan kita. Tidak mungkin Ia begitu saja mengampuni dosa kita tanpa penebusan untuk memulihkan kehormatan-Nya yang telah hilang. Walaupun umat manusia berutang dan wajib membayar tebusan itu, namun hanya Allah yang cukup mampu untuk dapat melunasinya. Oleh sebab itu, Allah harus menjadi manusia, agar sebagai manusia ia menawarkan penebusan itu melalui kematian-Nya. Anselmus adalah salah seorang “terpelajar” seorang Ahli Kristen yang mencoba memasukkan logika dalam pelayanan imam. Dalam karyanya Proslogium, yang pada awalnya Berjudul Fides Quaerens Intellectum (Imam Mencari Pengertian), Anselmus membuat pernyataan terkenal “Saya Percaya agar dapat mengerti” yang dimaksudkan dengan pernyataan itu adalah bahwa mereka yang mencari kebenaran harus beriman dahulu, tidak sebaliknya.
Dalam tulisannya, sasaran Anselmus adalah menunjukkan betapa iman masuk akal, dan bukan untuk menyajikan bukti yang tuntas. Keberatan-keberatan orang tak percaya dapat dijawab, sehingga orang tak percaya diarahkan pada kebenaran pesan Kristen.
Abelardus, Petrus (1079-1142).
Adalah seorang filsuf dan teolog Abad Pertengahan. Pada umumnya ia dipandang sebagai pendiri Skolatisisme bersama-sama dengan Anselmus dari Canterbury, Inggris. Ia seorang yang memiliki kepribadian yang menarik, kritis serta selalu mencari perkara-perkara yang baru.. Pertus Abelardus dilahirkan di Palais atau Le Pallet, dekat Nantes, Prancis pada tahun 1079, dalam sebuah keluarga bangsawan. Nama aslinya adalah Pierre de Palais. Petrus Abelardus (1079-1142), Adalah ahli skolastik kedua yang terkenal pada saat itu. Pada pendapatnya, persuasaian iman dan akal budi adalah lebih sukar untuk mewujudkannya. Semboyannya ialah: Lebih dulu aku harus mengerti, barulah aku percaya. Dalam kitabnya “Ya dam Tidak” ia mempertentangkan dan memperbandingkan bermacam-macam ajaran tradisi resmi Gereja, yang berlawanan satu sama kain. Bukan maksudnya menerbitkan syak terhadap-terhadap pasal-pasal kepercayaan Gereja, tujuanya tidak lain dari pada menyusuaikan segala perkara yang rupa-rupanya tak bercocokan, supaya akal budi dipuaskan dan iman mendapat dasar yang teguh, akan tetapi dengan jalan ini akal budi menjadi kaidah yang tertinggi untuk mengukur dan menilai iman. Oleh sebab itu Abelardus dilawan keras oleh Bernhard dari Clairvaux yang memang kuatir kalau kuasa rohani Gereja dirugikan dengan metode skolastik yang sangat bersifat kritis itu. Akhirnya Albelardus terpaksa takluk kepada lawan-lawannya.
Thomas dari Aquino (1225-1274).
Adalah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah teologia Scholastik. Ia seorang rabib anggota ordo Dominikan. Ia berhasil menampung azaz-azaz filsafat dalam suatu sisitem teologia yang menyuluruh. Pola pemikirannya dapat dilihat dari cara ia membahas hubungan antara rahmat Allah dan kemampuan manusia untuk berbuat baik. Thomaslah yang menyusun sistem teologi skolastik yang paling digemari dan dalam Gereja Katolik Roma ia merupakan teologi yang teladan sampai abad ini. Karya utamanya ialah buku yang berjudul Summa Theologiae (Ikhtisar seluruh teologi). Untuk menampung ajaran-ajaran filsafat, ia mengunakan bahan yang telah digambarkan dalam bab terdahulu, yakni kodrati dan adikodrati. Menurut Thomas, apa yang telah diajarkan para filsuf memang benar tetapi hanya merupakan kebenaran tingkat bawah atau kodrati. Dari dalam Alkitab kita memperoleh ajaran lain yang lebih tinggi yang bersifat adikodrati. Jadi sama seperti manusia dari dirinya sendiri hanya dapat menghasilkan kebaikan kodrati, begitu pula dengan menggunakan akal budi nya sendiri yang hanya dapat memperoleh pengetahuan kodrati. Dan sebagaimana Allah memberi manusia kekuatan dari atas sehingga menghasilkan perbuatan-perbuatan adikodrati, begitu juga berkat pernyataan Allah dalam Alkitab manusia memperoleh pengetahuan adikodrati. Contohnya: para filsuf mengaku keesaan Allah, hal itu merupakan pengetahuan yang kodrati. Akan tetapi orang-orang Kristen mengaku Allah Tritunggal, itu merupakan pengetahuan yang adikodrati. Dengan menggunakan bahan ini, Thomas dan pengikut-pengikutnya dapat menampung hasil pemikiran-pemikiran filsafat Yunani-Romawi. Karena itu teologinya bersifat ilmiah dan dapat memuaskan selera para cendekiawan pada zaman itu. Meskipun ia telah menjadi salah seorang teolog, guru dan pengkhotbah terkemuka di gereja, keberadaan Aquino tetap sederhana. Tiga bulan menjelang kematiaannya, pada tahun 1274, ia mengumumkan bahwa pengelihatan dari surga dengan jelas menunjukkan bahwa teologinya hanyalah “tumpukan jerami”. Ia membuang tulisan-tulisan teologis, dan Summa Theologica tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Duns Scotus. Tidak lama kemudia timbullah kritik terhadap teologia Thomas dari sudut lawan-lawan ordo Domican, yakni golongan Franciskan. Wakilanya yang terutama adalah orang Inggris yang bernama Joh. Duns Scotus (1265-1308) di Oxford. Ia mengerti bahwa tidak mungkin pernyataan akal budi disesuaikan satu sama lain, yang di manapada perasaanya, perbuatan-perbuatan dan peraturan-peraturan Allah yang diberitakan oleh Alkitab dan Gereja, sama sekali tidak dapat dibuktikan, sehingga dapat dipahami oleh akal budi. Jangan diharap akal budi itu dapat dipaksa untuk mengaku kebenaran pasal-pasal Gereja. Karena Allah ialah Mahakehendak yang mengatur segala sesuatu menurut kehendaknya. Apa sebabnya Allah menyelamatkan manusia dengan mengirimkan anaknya kedunia ini? Sebab ia mengkehndakinya! Sebab yang lain tidak ada. Apabila Tuhan ingin menyelamatkan dunia ini dengan jalan yang lain sekali, sudah tentu ia bisa berkuasa berbuat demikian, tetapi Tuhan tidak ingin memakai jalan lain. Apa sebabnya Yesus disengsarakan dan dibunuh pada kayu salib? Tidak mungkin manusia akan dapat memahami itu dengan pikiranya. Cukuplah baginya kalau ia percaya sunguh-sungguh bahwa salib itu satu-satunya jalan keselamatan dan ditentukan dan dimaksudkan Tuhan dalam hikmatnya yang mengatasi segala hikmat manusia. Dengan demikian banyak bukti-bukti yang dipakai akal budi untuk mengerti sesuatu, dibuang saja oleh Duns Scotus. Ia menunjuk kepada suatu dasar lain bagi pernyataan Tuhan, suatu yang lebih teguh, yakni kuasa rohani Gereja. Jangan hendaknya manusia berkecil hati bahwa akalnya tidak sampai kepada segala perkara ajaib itu. Biarlah ia menerima dan percaya saja apa yang telah diajarkan kepadanya oleh Gereja, karena Gerejalah yang dikaruniakan Tuhan dengan hikmat rohani. Sampai kini Duns lah yang dianggap orang Fransciscan sebagai ahli teologia yang terbesar.
Occam, William.
Merupakan seorang teolog yang terakhir dari teolog Skolastik. Ia dilahirkan di Occam, Surrey, Inggris pada tahun 1280. Pada masa mudanya ia menjadi anggota ordo Fransiskan. Ia ditahbiskan menjadi subdiaken pada tahun 1036. Kemudian selama enam tahun (1309-1315) Occam belajar di Universitas Oxford. Dia adalah ahli skolastik yang ternama yang penghabisan, ia adalah rahib Franciscan Inggris, William dari Occam (1280-1349). Ia melangkah lebih jauh lagi. Gedung sccholastik yang permai itu, yang diciptakan oleh Thomas, telah mulai goyang karena kencaman Duns Scotus, tetapi sekarang seluruh dasar akal budi itu dibongkar oleh Occam. Bukan saja akal manusia tak dapat mengerti pernyataan Tuhan, tetapi Gereja pun deserang dengan akal budi yang sangat hebat, karena akal budi tidak dapat memasuki dunia Allah. Sebab itu manusia hanya dapat menggantungkan kepercayaanya kepada kehendak Tuhan saja, yang telah dinyatakan oleh-Nya, tetapi sekali-sekali tak terpahami. Semboyan Occam berbunyi: Aku percaya sebab mustahil!. Akan tetapi Occam mengajar juga dalam beberapa hal sesuai yang benar-benar dari Alkitab, misalnya: iman itu bukan mistik dan bukan pengakuan otak pula, karena iman bukan sesuai dengan tabiat manusia, iman tidak lain dari taatnya dan takluknya manusia kepada kuasa Firman Tuhan yang kedengaran dari dalam Alkitab.
Innocentius III.
Ia Paus yang berkuasa pada tahun 1198 dan 1216. Ia mewujudkan kepausan yang sangat berkuasa dalam sejara abad pertengahan. Orang yang susah diajak kompromi dan berbakat ini berupaya membawa ketertiban dan disiplin pada gereja. Innocentius menginginkan kepausan yang mengontrol berbagai urusan gerejawi dan negara. Apabila para Paus yang terdahulu menjuluki diri mereka sebagai “Wakil Petrus”, Innocentius menuntuk hak sebagai “Wakil Kristus”. Dengan menyatakan bahwa ia adalah duta Kristus di bumi, ia berkata bahwa Paus adalah “perantara antara Allah dan Manusia, di bawah Allah tetapi diatas manusia”. Sepanjang hidupnya ia berjuang untuk mempersatukan Eropa dibawah kekuasaan seorang raja dan satu hukum moral Kristen. Raja-raja adalah wali paus yang dianggkat oleh paus untuk mengurus perkara-perkara duniawi. Oleh karena itu raja harus taat kepada paus. Raja dapat memerintah dengan benar bila raja melayani gereja. Innocentius III memakai gambaran matahari dan bulan. Matahari memerintah siang dan bulan (yang lebih kecil) memerintah malam. Itulah sebabnya Innocentius III ikut campur tangan dalam masalah-masalah pemerintahan dunia. Puncak karya kepausannya adalah pemanggilan konsili Lateran IV, tahun 1215 yang menyatakan perang salib terhadap golongan Albingenis. Ia juga menggerakkan perang salib IV (1204) untuk merebut kembali Tanah Suci, namun gagal dan tentara salib merampok kota Konstantinopel. Innocentius meninggal pada tahun 1216.
II.6 Pembagian Teologi Gereja RK
a. Teologi Dogmatik
Teologi yang fundamental atau teologi dasar berkaitan dengan dogma atau ajaran gereja. Disini teologi adalah usaha untuk memahami kebenaran iman dengan menyelidiki rumusan ajaran Allah yang disampaikan melalui sumber-sumber tradisi, kitab suci, dan wewenang mengajar gereja (Magisterium).
Dalam tradisi terdapat prinsip bahwa penyampaian ajaran Kristus dari zaman ke zaman harus utuh dan lengkap. Sebab ajaran yang utuh dan lengkap itu adalah “wasiat iman” (depositum fidei).
b. Teologi Tentang Gereja atau Eklesiologi
Eklesiologi adalah teologi yang berhubungan dengan pokok pengakuan iamn katolik yang menyatakan “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik” - “Gereja katolik yang kudus, persekutuan para kudus”, jadi eklesiologi adalah teologi tentang Gereja.
· Eklesiologi umat perdana
Pemahaman umat perdana atas Gereja dapat ditangkap dari Kisah Para Rasul, surat-surat Paulus, dan Tulisan Yohanes. Setelah kebangkitan Kristus, himpunan umat itu mengarah pada pemisahan dari Israel, dan dalam Kristus menjadi Israel baru yang sejati (Gal 3:29, Rm 9:6)
· Eklesiologi para bapa Gereja (patristik)
Zaman para Bapa Gereja (patristik) kurang lebih terentang antara tahun 150 hingga 800. Paham tentang Gereja bersumber dari tafsir kitab suci dan tekanan yang bersifat kristologis. Pada masa ini St Hieronimus menerjemahkan Kitab Suci Yunani (LXX) ke dalam bahasa Latin. Paham mereka tentang Gereja belum sisteematik dan lebih tipologis. Nuansa asketis (mengejar kesucian dengan laku saleh) dan monistis (bersifat kebiaraan) sangat menonjol.
Teologi asketis (mati raga, tanpa, berkorban) diutamakan, sehingga himpunan-himpunan awan yang tidak melakukan itu dianggap warga kelas dua. Persekutuan para kudus dapat penekanan. Santo Agustinus (354-450) menyebut civitas Dei (umat Allah) namun diperhatikan di dalamnya bukan persaudaraan, melainkan ibadat. Tokoh lain yang terkenal adalah St Antonius (251-336) yang memberikan peraturan-peraturan awal. Regula kebiaraan selanjutnya bersumber pada St Beneditus (480-543). Maka gereja bersifat sakramental. Dan tanda sakramental itu mengikuti nasihat Injil untuk hidup miskin di hadapan Allah dan dalam ketaatan kepada Allah seperti yang terdapat dalam (Mrk 10:17-22). Pada zaman patristik inilah Gereja dipahami dengan empat cirinya: satu, kudus, katolik, apostolik. Ciri ini diteguhkandalam Konsili Nicea (326).
c. Teologi Moral
Membahas isi iman sejauh merupakan kaidah penilaian baik buruk, benar salah, atas perilaku manusia dalam terang wahyu ilahi. Meliputi moral dasar dan moral sosial.
- Moralitas Sepuuh Perintah Allah
- Moralitas Khotbah di Bukit
- Moralitas Kerajaan Allah
- Moral sosial, Moral keterlibatan.
III. Kesimpulan
Gereja Katolik, yang secara luas sering juga disebut Gereja Katolik Roma, adalah Gereja Kristen terbesar di dunia, dan diperkirakan memiliki 1,8 miliar jemaat, yakni lebih dari setengah seluruh umat Kekristenan dan seperempat dari populasi dunia. Otoritas duniawi tertinggi Gereja ini dalam perkara iman, moral dan pemerintahannya adalah Sri Paus, saat ini Paus Fransiskus, yang memegang otoritas tertinggi bersama-sama Dewan Uskup, yang diketuainya. Gereja Teologi RK terbagi atas 3, yaitu : Teologi Dogmatik, Teologi tentang Gereja Eklesiologi, Teologi Moral. Pada sajian ini Teologi Gereja RK terdapat Teologi Sakramen, Teologi Kepausan.
IV. Daftar Pustaka
Lane, Toni, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani
H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja
Wellem, F.D., Kamus Sejarah Gereja
Den, Van, End, Harta Dalam Benjana
Kenneth, Curtis A., 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
Berkhof, H., Sejarah Gereja
Sumber Lain:
https://id.wikipedia.org/wiki/Teologi_Katolik, 8 Agustus 2019
https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Katolik_Roma, diakses pada tanggal 24 April 2020, 11:43 Wib