Tuesday, May 5, 2020

Teolog Gereja Khatolik Roma Pada Abad Pertengahan


Teolog Gereja Khatolik Roma Pada Abad Pertengahan

Gereja Katolik Roma - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
I. Pendahuluan
Pada awal abad pertengahan yaitu antara tahun 590-910, gereja terbagi menjadi dua yaitu, Gereja Timur yang juga disebut sebagai gereja Ortodoks dan  Gereja Eropa Barat yang  disebut juga dengan Gereja Khotolik Roma. Pada sajian kali ini akan dijelaskan sekilas tentang latar belakang terbaginya gereja tersebut. Kemudian yang akan menjadi fokus pada pembahasan dibawah   ini adalah tentang  teolog Gereja Khatolik Roma, serta pengaruhnya dalam berbagai kehidupan. Semoga penjelasan ini dapat kita pahami  dengan baik, agar mampu menambah wawasan kita bersama.
II. Pembahasan
II.1. Latar Belakang Gereja Khatolik Roma
Pada awal abad pertengahan perkembangan dogma melalui konsili-konsili oikumenis diselesaikan. Sejak itu ajaran di Gereja Timur tidak pernah diubah lagi. Untuk  Gereja Barat apa yang telah diputuskan, khususnya mengenai trinitas dan kristologi, merupakan dasar ajaran, yang tidak diubah tetapi ditambah dengan beberapa ajaran lain. sejak ini kita membedakan kedua gereja ini yang masing-masing mempunyai corak-corak  dan sejarah tersendiri.
Di Eropa Barat gereja dinamakan Gereja Khatolik Roma, yang dipimpin oleh uskup kota roma, pusat gereja yang sudah lama disebut Paus. Paus, seperti telah dikatakan, tidak hanya berfungsi sebagai kepala gereja, tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat. Pada umumnya gereja di Eropa Barat tidak hanya memainkan peranan dibidang agama saja, tetapi juga di bidang politik dan kebudayaan, sehingga dapat dikatakan bahwa Gereja Khatolik Roma menentukan seluruh kehidupan Masyarakat.
II.2. Anselmus Dari Canterbury
2.2.1. Riwayat Hidup Anselmus
Anselmus adalah seorang teolog dan filsuf yang hidup pada Abad Pertengahan. Ia adalah orang yang sangat terkemuka di antara pemikir-pemikir Skolastik. Anselmus dilahirkan pada tahun 1033 di Aosta, Italia. Ayahnya adalah bangsawan di Italia yang bernama Gundulph dan ibunya bernama Ermenberga.  
Tahun 1056, Anselmus menyeberangi pegunungan Alpen dan berdiam di Burgundy, Prancis. Namun tidak lama kemudian ia pindah lagi ke Bec, di Normandy. Di sini Anselmus memasuki biara Bec  yang di pimpin oleh Lanfranc, seorang pemimipin biara yang memiliki kepribadian yang sangat menarik. Tahun 1060, Lanfranc diangkat menjadi uskup agung di Canterbury, Inggris dan Anselmus diangkat menjadi penggantinya di Bec. Anselmus adalah seorang yang sangat pandai. Karena hubungannya dengan Lanfranc, maka Anselmus berkali-kali mengunjungi Inggris atas undangan raja Inggris, William Rufus. Perkunjungan tersebut menyebabkan Anselmus sangat dikenal di Inggris. Pada tahun 1093 Raja William sakit keras dan di tempat pembaringannya ia memilih Anselmus sebagai uskup agung, pada tahun 1097 Anselmus pergi ke Roma tanpa sepengetahuan William, kemudian ia dipanggil kembali oleh raja yang baru, yaitu Hendrik I tahun 1100. Anselmus wafat pada pada tanggal 21 April 1109.
2.2.2. Pengangkatan Anselmus Sebagai Uskup Agung
Lanfranc wafat pada tahun 1089. Belum terdapat kesepakatan tentang siapa yang akan menggantikan kedudukan Lanfranc sehingga keuskupan agung Canterbury kosong selama tiga tahun. Tahun 1093 Raja William sakit keras dan dari tempat pembaringannya ia memilih Anselmus sebagai uskup agung Canterbury. Anselmus mengatakan bahwa dirinya tidak cocok dengan jabatan tersebut. Namun raja memaksanya sehingga Anselmus mengajukan persyaratan bahwa ia bersedia menerima jabatan tersebut asalkan raja mau menaatinya sebagai bapa rohaninya dan mengakui urbanus II sebagai paus.
Segera timbul perselisihan antara Anselmus dengan raja mengenai tanah tanah keuskupan dan siapa yang membayar pajak keuskupan agung. Perselisihan ini menjadi rumit dengan masalah pengakuan atas Urbanus II sebagai Paus serta ketetapan tentang hak uskup agung untuk mengetahui persidangan para uskup. Berhubungan dengan jabatan uskup agungnya ia meminta pallium (tongkat kekuasaan) kepada paus dan bukan kepada raja. . Utusan paus membawa pallium dan menaruhnya di altar Canterbury dan Anselmus menerimanya dari tempat itu tindakan ini menunjukkan bahwa Anselmus hanya mau menaati paus, dan jabatan uskup agungnya diterimanya dari paus, bukan dari raja Inggris.
2.2.3. Kehidupan Anselmus Setelah Menjadi Uskup Agung
Pada tahun 1097 Anselmus pergi ke Roma tanpa sepengetahuan William. Sementara itu Anselmus menghadiri Konsili Bari tahun 1098 dan Konsili Lateran tahun yang sama. Di Roma ia mulai mempelajari dengan teliti tentang keputusan-keputusan yang melarang investiture awam dan tentang kesetiaan. Ia tinggal dengan Hugh dari Lyons hingga ia dipanggil kembali oleh raja yang baru, yaitu Hendrik I tahun 1100.
Anselmus menerima panggilan tersebut dan kembali ke Inggris serta menduduki kembali kursi keuskupan agung Canterbury. Kemudian ia bertekad untuk melaksanakan investiture tampa kompromi. Memang selama ini gereja-gereja di Inggris sangat dikuasai oleh sang raja dan para bangsawan. Hendrik I menuntut agar Anselmus menolaknya dengan keras. Maka mulailah pertikaian mengenai investiture awam lagi di Inggris. Anselmus meminta nasihat kepada paus di Roma dan paus berpihak kepadanya.
Pada tahun 1105 Paus Pascal mengekskomunikasikan uskup-uskup yang diangkat oleh Hendrik I. Anselmus sendiri mengancam raja dengan tindakan ekskomunikasi perundingan perdamaian berjalan selama dua tahun dan berakhir di London pada tahun 1107. Anselmus wafat pada tanggal 21 April 1109. Pada tahun 1120 Paus Clemens XI menetapkannya sebagai doktor gereja.
2.2.4. Karya-karya Anselmus
Anselmus menulis beberapa karya yang penting baik dalam bidang teologi maupun dalam bidang filsafat. Karya teologinya yang terpenting adalah Monologion. Dalam bukunya ini Anselmus memberikan bukti-bukti tentang adanya Allah melalui tiga cara, sebagai berikut:
1. Yang baik secara relative mengandaikan adanya yang baik secara mutlak. Yang baik secara mutlak itu disebut Allah.
2. Fakta bahwa semua hal berada dalam hal yang sama dan karena itu harus ada sesuatu penyebab mula dari segala yang ada ini. Penyebab itu disebut Allah.
3. Fakta adanya berbagai tingkat kesempurnaan. Hal itu mengandaikan adanya kesempurnaan yang mutlak yang disebut Allah.
Karyanya yang lain adalah Cur Deus Homo (Mengapa Allah Menjadi Manusia). Di sini Anselmus berusaha untuk membuktikan perlunya Kristus menjadi manusia dan kematian Kristus harus diakui oleh akal budi. Ia berpendapat bahwa Tuhan Allah sendiri turun dari sorga dan menjelma dalam anak-Nya Yesus Kristus supaya hukuman manusia ditanggung-Nya sendiri dan Ia dapat membayar utang dosa ganti kita. Dengan jalan itu baik keadilan, rahmat maupun kasih Allah dipenuhi dan disempurnakan.
Dalam Cur Deus Homo Anselmus menyampaikan teori tentang bagaimana kematian  Kristus di kayu salib, ysng mendamaikan manusia dengan Allah. Allah, kata Anselmus, adalah Tuhan alam semesta, ada (Being) yang kehormatan-Nya tersinggung oleh dosa manusia. Meskipun ia ingin mengampuni manusia, agar ketertiban moral pulih kembali di jagat raya, Ia tak dapat begitu saja “menutup mata” atas dosa. Harus diadakan pengorbanan, sesuatu yang setimpal dengan pekanggaran itu. Karena dosa berasal dari manusia, pengorbanan itu juga harus dilakukan oleh manusia. Namun manusia tidak dapat mempersembahkan pengorbanan setimpal. Maka Allah menjadi manusia, dan yang mempersembahkan pengorbanan itu adalah  baik Allah dan manusia: Kristus.
Ide Anselmus ini dikenal sebagai “Teori Pengorbanan” bagi penebusan. Sampai saat ini, teori tersebut merupkan penjelasan teori terkenal tentang karya penebusan Kristus. Ia mempunyai sumber-sumber Alkitabiah seperti: “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanngaran mereka…” (2 Kor. 5:19).
Mengenai hubungan iman dan pengetahuan dirumuskannya sebagai berikut: Credo utintelligam (Aku Percaya untuk mengerti) atau Fides quaerens intellectum (iman berusaha untuk mengerti). Orang harus mulai percaya akan penyertaan Tuhan Allah yang diajarkan oleh gereja dan sesudah itu baru berusaha menjelaskan kepercayaan itu sehingga diakui selaku kebenaran oleh akal manusia. Pandangan-pandangan teologi Anselmus mempunyai pengaruh yang besar dalam teologi gereja pada Abad Pertengahan.
II.3. Thomas Aquinas
Aquinas merupakan teolog skolastik yang terbesar. Ia adalah murid Albertus Magnus. Albertus mengajarkan kepadanya filsafat Aristotles sehingga ia sangat mahir dalam filsafat itu. Pandangan-pandanag filsafat Aristoteles tidak menjadi umsur berbahaya bagi iman Kristen. Pada tahun 1879 ajaran-ajarannya dijadikan sebagai ajaran yang sah dalam Gereja Katolik Roma oleh Paus Leo XIII.
Thomas dilahirkan di Roccasecca, dekat Aquino, Italia,1225. Ayahnya ialah Pangeran Landulf dari Aquino. Orang tuanya adalah orang katolik yang saleh. Karena itulah pada usia lima tahun Thomas diserahkan ke biara Benedictus di Monte Cassino untuk dibina agar kelak menjadi seorang biarawan.
II.3.1. Pendidikan Thomas Aquinas
Setelah sepuluh tahun Thomas berada di Monte Cassino, kemudian ia dipindahkan ke Naples untuk menyelesaikan pendidikan bahasanya. Selama di sini ia mulai tertarik  kepada pekerjaan kerasulan gereja dan ia berusaha untuk pindah ke Ordo Dominikan, suatu Ordo yang sangat berperan pada abad itu. Keinginannya tidak direstui oleh kedua orangtuanya sehingga ia harus tinggal di Roccasecca setahun lebih lamanya. Namun tekadnya sudah bulat sehingga orangtuanya menyerah pada keinginan anaknya. Pada tahun 1245 Thomas resmi menjadi anggota Ordo Dominikan.
Sebagai anggota Ordo Dominikan, Thomas dikirim belajar ke Universitas Paris, yaitusebuah Universitas yang sangat terkemuka saat itu. Ia belajar di sini selama tiga tahun (1245-1248). Di sinilah ia berkenalan dengan Albertus Magnus yang memperkenalkannya kepada filsafat Aristoteles. Ia menemani Albertus Magnus memberikan kuliah di Stadium Generale di Cologne, Prancis pada atahun 1248-1252.
Pada tahun 1252 ia kembali ke Paris dan mulai memberikan kuliah Biblika (1252-1254) dan Sentences, karangan Petrus Abelardus (1254-1256) di Konven St. Jacques,Paris.
II.3.2. Perjalanan Thomas Aquinas Setelah Masa Pendidikannya
Kecakapannya sangat terkenal, sehingga ia ditugaskan untuk memberikan kuliah-kuliah dalam bidang filsafat. Dan teologi di beberap kota di Italia, seperti di Anagni, Orvieto, Roma, Viterbo selam 10 tahun lamanya. Pada tahun 1269 Thomas di panggil ke Paris. Ia hanya tiga tahun berada di sini, karena pada tahun 1272 ia ditugaskan untuk membuka sebuah sekolah Dominikan di Naples.
Dalam perjalanan menuju ke Konsili Lyons, tiba-tiba Thomas sakit dan meninggal di biara Fossanuova, 7 Maret 1274. Paus Yohanes XXII mengangkat Thomas sebagai orang kudus pada tahun 1323.
II.3.3. Pemikiran dan Karya Thomas Aquinas
Thomas mengajarkan, Allah sebagai “ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens). Allah adalah “ada yang tertinggi ”, yang mempunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya.
Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tinggkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan tingkat bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). “Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat,” demikian kata Thomas.
Mengenai manusia, Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia mempunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat Allah. Ketika manusia jatuh kedalam dosa rahmat Allah (kodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna. Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Rahmat adikodrati itu ditawarkan lewat gereja. Dengan bantuan rahmat adikodrati itu manusia dikuatkan untuk mengerjakan keselamatannya dan memungkinkan manusia dimenangkan oleh Kristus.
Mengenai sakramen, ia berpendapat bahwa ada tuju sakramen yang diperintahkan Kristus dan sakramen yang terpenting adalah ekaristi (sacramentum sacramentorum). Rahmat adikodrati itu disalurkan kepada orang percaya lewat sakramen. Dengan menerima sakramen orang mulai berjalan menuju kepada suatu kehidupan yang baru dan melakukan perbuatan baik yang menjadikan ia berkenan kepada Allah. Dengan demikian rahmat adikorati sangat penting karena manusia tidak bisa berbuat baik tanpa rahmat yang dikaruniakan oleh Allah.
Gereja dipandang sebagai lembaga keselamatan yang tidak dapat berbuat salah dalam ajarannya. Paus memiliki kuasa yang tertinggi dalam gereja dan pauslah satu-satunya pengajar yang tertinggi dalam gereja. Karya teologis Thomas yang sangat terkenal adalah Summa Contra Gentiles dan Summa Theologiae.
Dalam teologinya Thomas juga mencetuskan ada beberapa mengenai tujuh Sakramen yang diperintahkan Kristus. Ketujuh sakramen tersebut, yaitu:
1. Baptisan, dianggap menghapuskan dosa turunan dan diperlukan secara mutlak untuk keselamatan.
2. Konfirmasi (peneguhan), diberikan oleh uskup kepada anak-anak yang sudah mencapai umur sekitar 7 tahun.
3. Pengakuan Dosa, yang diucapkan di hadapan para imam
4. Misa atau Ekaristi, Roti dan Anggur yang dibagi-bagikan itu dianggap adalah benar-benar tubuh dan darah kristus (transubstansiasi= paerubahan menjadi zat lain, yang ditetapkan menjadi dogma resmi pada tahun 1215).
5. Peminyakan, yang terjadi dengan minyak “suci”atas orang-orang sakit yang akan meninggal.
6. Nikah, yang dipandang sebagai sakramen juga supaya hal yang “jasmani” itu diangkat ke tingkat “rohani”.
7. Panahbisan imam, dengan penahbisan itu, maka pengantara yang dipakai Tuhan akan menyampaikan Anugerah-Nya kepada manusia.
II.4. Innocentius III
Innocentius III adalah seorang paus pada Abad Pertengahan yang berhasil melepaskan gereja dari kekuasaan dan pengawasan pemerintah duniawi (negara). Namanya yang asli adalah Lotario dei Conti di Segni. Ia dilahirkan dalama sebuah keluaga bangsawan di Italia.
Innocentius III belajar teologi skolastik di Universitas Paris dib bawah bimbingan Petrus dari Corbeil. Kemudian ia belajar ilmu hukum dan hukum kanon pada Univeritas Bologna di bawah bimbingan Ugoccio dari Ferrara. Setelah selesai pendidikannnya di Bolagna, ia kembali ke Roma dan segera menempati kedudukan yang penting dalam kepausan di Roma. Pada tahun 1198 Paus Celestinus IV meniggal dunia dan Lotario terpilih menjadi Paus. Sepanjang hidupnya ia berjuang mempersatukan Eropa di bawah kekuasaan seorang raja dan satu hukum moral Kristen. Ia menyebut dirinya sebagai “wakil Kristus” . kristus bukan saja menyerahkan kekuasaan atas gereja kepada Petrus, melainkan juga kekuasaan atas seluruh dunia. Raja-raja adalah wali paus yang diangkat oleh paus untuk mengurus perkara-perkara duniawi. Oleh karena itu raja-raja harus taat kepada paus. Raja dapat memerintah dengan benar bila raja melayani gereja. Innocentius III memakai gambaran matahari dengan bulan. Matahari memelihara siang dan bulan memerintah malam. Begitu juga dalam gereja, Allah mengadakan dua oangkat besar yaitu yang paling besar untuk memerintah jiwa dan yang kurang besar untuk memerintahkan tubuh. Pangkat-pangkat itu adalah kekuasaan paus dan kekuasaan raja. Sebagaimana bulan memperoleh terang dari matahari, begitu juga pemerintah raja memperoleh kemuliaan pangkatnya dari kekuasaan Paus.
Itu sebabnya Innocentius III ikut campur tangan dalam masalah-masalah pemerintahan dunia. Misalnya melarang raja Prancis untuk menyerang Inggris; memaksa raja Prancis, Filipus Agustus, untuk berdamai dengan istrinya.
Puncak karya kepausannya adalah pemanggilan konsili Lateran IV tahun 1215 yang menyatakan perang salib terhadap golongan Albingensis. Ia juga menggerakkan perang salib IV (1204) untuk merebut kembali Tanah Suci, namun gagal dan tentara salib merampok kota Konstantinopel.
Innocentius meninggal tahun 1216. Ia telah berjuang untuk kemuliaan gereja (kepausan) yang kemudian segera merosot. Paus-paus lebih suka hidup dalam kemewahan sehingga timbullah perlawanan dari raja-raja dan masyarakat terhadap kepausan.  
II.5. Franciscus dari Asisi
Franciscus dari Asisi adalah pendiri Ordo saudara-saudara Hina (Ordo Fransiskan, OFM). Ayahnya adalah seorang saudagar kain yang kaya di Asisi bernama Pietro Benardone dan ibunya bernama Pica. Nama Fransiskus yang sebenarnya adalah Giovanni, namun ia lebih dikenal dengan nama Franciscus. Sebab ketika Giovanni dilahirkan, ayahnya sedang berada di Prancis untuk urusan dagang. Franciscus adalah seorang anak yang riang gembira. Pada masa kecil sampai dengan umur 20 tahun ia membantu usaha perdagangan ayahnya.
Pada tahun 1202 timbul pertikaian mengenai perbatasan Perugia dengan Asisi. Pertikaian ini menimbulkan perang. Franciscus sebagai pemuda Asisi ikut membela negerinya. Dalam peperangan ini Franciscus tertawan dan mendekam dalam penjara setahun lamanya. Setelah bebas, ia ikut lagi berperang di Apulia yang dipimpin Walter dari Brienne. Franciscus terpaksa kembali dari medan perang lantaran sakit. Pada waktu Franciscus sakit, ia mengalami pergumulan rohani yang hebat. Ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya demi mengabdi kepada doa dan orang-orang miskin.  
Pada tahun 1205 ia mengadakan perjalanan ziarah ke Roma, ketika memasuki pintu gerbang gereja St Petrus. Hatinya jatuh kasihan kepada seorang pengemis yang berdiri didepan pintu gerbang itu, ia memberikan bajunya kepada pengemis itu. Franciscus ingin meresakan sendiri bagaimana menjadi seorang  pengemis, hingga selama sehari ia menjadi pengemis di depan pintu gerbang itu. Pada kesempatan lain ia bertemu seorang berpenyakit kusta dan terdorong oleh rasa kasihannya, franciscus memeluk orang itu.
Pada tahun 1206 Fransiskus berdoa dalam gereja St Damian di Asisi. Ia mendengar suara dari lukisan Kristus yang berkata supaya ia memperbaiki gedung gereja yang hampir runtuh. Fransiskus membagi-bagikan uang Ayahnya kepada orang-orang miskin dan menjual kain-kain ayahnya dan dipergunakan untuk memperbaiki gedung tersebut sehingga ayahnya marah akibat tindakannya tersebut. Hak waris Franciscus dicabut ayahnya.
Di bawah perlindungan Uskup setempat, Franciscus hidup sebagai seorang biarawan dekat St Damian. Dua tahun kemudian ia dapat membangun empat gereja dengan jalan mengemis.
Pada tahun 1209 ia membantu melayankan misa dalam gereja di Portiuncola dekat Asisi, Franciscus mendengar Firman  Tuhan (Matius 10:8-19) ia menganggap kata-kata itu adalah nasihat pribadi kepadanya. Oleh karena itu, ia membuang tongkat dan sepatunya dan memakai jubah hitam dan berikatpinggangkan tali dan hidup sebagai pengemis. Franciscus mengajarkan tentang kemiskinan, pertobatan, kasih persatuan dan perdamaian.segera banyak oaring yang tertarik dengan gaya hidupnya dan bergabung dengan dia.ia membuat seuatu peraturan hidup yang sederhana bagi kelompok yang di dasarkan pada perkataan-perkataan dari injil. Franciscus menyatakan bahwa kemiskinan adalah kehidupan tampa milik, secara pribadi maupun kelompok. Kemiskinan bukan hanya menyangkut aspek material, melainkan juga Spiritual, yaitu mengosongkan diri demi mengabdi kepada Allah. 
II.5.1. OFM (Ordo Saudara-saudara Hina) 
Pada tahun 1210, Fransiskus pergi ke Roma untuk memperoleh persetujuan Paus Innentius III. Paus menyetujuinya dan nama ordonya adalah OFM (Ordo Saudara-saudara Hina).Anggota-anggota Ordo Franciscus mengelilingi seluruh Italia. Pada tahun 1212 seorang wanita bangsawan yang kaya di Asisi menyerahkan seluruh harta miliknya. Wanita itu bernama Clare. Dengan bantuan tersebut dibangunlah serikat untuk kaum wanita yang berpusat di Gereja St. Damian.
Franciscus banyak melakukan perjalanan. Tahun 1214 ia mengelilingi Spanyol dan Afrika untuk menobatkan orang-orang Moro (Islam). Tahun 1216 OFM sudah terdapat di Lombardia hingga ke Sisilia. Sementara itu dirasakan bahwa peraturan OFM yang sederhana itu tidak cocok lagi, terutama di Kota-kota. 
II.5.2. Franciscus Mengundurkan Diri 
Pekerjaan-pekerjaan kerasulan terus berjalan. Ia bersama dengan 11 sahabatnya pergi ke Palestina. Di sana ia memasuki istana dan diterima dengan penuh hormat. Ia berkhotbah kepada sultan. Sesudah itu ia pergi ke Eropa Timur dan Mesir dan tterjadilah perubahan besar. Elias dari Cortona dan Petrus dari Cataneo telah mengubah peraturan-peraturan dengan menambah jumlah hari puasa dan memperolrh hak-hak khusus dari paus. Ugolino menasihatkan agar OFM dijadikan Ordo regular. Peraturan ini dirumuskan dan disahkan oleh Paus Honorius III tahun 1223.
Kemudian franciscus mengundurkan diri dan ia bertapa di gunung La Verna tempat ia memperoleh stigmata, yaitu bekas luka-luka Kristus ditangan dan kaki, yang tampak pada tangan dan kaki Franciscus. Franciscus meninggal 3 Oktober 1226 pada umur yang sangat lanjut dibawah kaki altar Kapel Portiuncula. Tanggal 16 Juli 1228 Franciscus dianggkat menjadi orang kudus oleh sahabatnya, ugolino, yang menjadi Paus dengan nama Paus Gregorius IX. 
II.6.  Jhon Wycliffe
John Wycliffe adalah seorang tokoh perintis gerakan reformasi di inggris pada abad ke 14. Di samping itu, ia dikenal sebagai seorang filsuf. Wycliffe dilahirkan di Yorkshire pada tahun 1325 dan belajar pada Universitas Oxford. Ia memperoleh gelar doctor teologi pada tahun 1372. Meskipun menduduki beberapa posisi penting dalam gereja. Namun di muka umum ia belum di kenal hingga tahun 1374.
Jhon Wycliffe adalah seorang terpelajar yang terkemuka pada zamannya. Seluruh Inggris menghormati kebijakannya. Pendidikan di Universitas ini masih merupakan fenomena baru ketika itu, dan peranan Wycliffe sungguhlah besar bagi reputasi Oxford, tempat ia belajar dan mengajar.
Namun kehidupannya penuh dengan kontrofersi. Ia mempunyai kebiasaan berbahaya, yaitu mengatakan apa yang dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya membuatnya mempertanyakan tentang ajaran khatolik resmi, ia lansung menyuarakannya. Ia mempertanyakan hak gereja atas kuasa duniawi dan kejayaannya. Ia mempertanyakan juga penjualan surat-surat pengampunan dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan para santo dan relikwi yang berbau takhayul, serta kuasa paus.
Sekitar tahun 1374, Wycliffe mulai dikenal umum namun lantaran hubungannya dengan pangeran John dari Gaunt yang antiklerus. Wycliffe mulai mengkhotbahkan kesewanang-wenangan, kebusukan-kebususkan paus yang segera menarik perhatian banyak orang. Paus berusaha untuk mendiamkan Wycliffe, namun tidak berhasil karena ia mendapat perlindungan Pangeran John. Pada tahun 1377 paus mengeluarkan bulla bagi Wycliffe, namun bulla tersebut tidak efektif karena Oxford pun mendukungnya. Dewan doctor di Oxford menyatakan bahwa tidak satu pun tuduhan dalam bulla itu yang membenarkan bahwa ajaran Wycliffe salah. Wycliffe kemudian menulis bukunya yang berjudul Protes  pada tahun 1378, yang di dalamnya ia membela rumusan-rumusan ajarannya.
Pada tahun 1379 Wycliffe memulai kegiatan kegiatan ke luar. Ia mengutus para sarjana dan orang-orang awam untuk berkhotbah dan membacakan Alkitab kepada umat. Ia pun mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris untuk memenuhi kebutuhan kegiatannya.
Ia mulai menyerang ajaran transsubstansiasi. Menurut dia, ajaran tersebut merupakan ibadah penyembahan berhala. Kemudian ia meninggalkan Oxford dan berdiam di Lutterworth. Di sini ia menghabiskan waktunya dengan menulis hingga wafatnya pada tahun 1384.
Perlawanannya dengan paus sebenarnya dimulai dengan pembelaan terhadap harta milik gereja di Inggris adalah milik paus, namun Wycliffe menolak tuntutan seperti itu. Ia berpendapat bahwa harta milik gereja di Inggris adalah milik Negara. Persoalan pemilikan harta milik gereja itu mendorong Wycliffe untuk menyelidiki dasar pemilikan di dalam Alkitab. Ia menarik kesimpulan bahwa sebaiknya gereja jangan mempunyai harta milik duniawi. Gereja harus menjadi miskin dan sederhana sebagaimana gereja pada masa Perjanjian Baru.
Serangannya terhadap paus juga tajam. Ia berpendapat bahwa keputusan-keputusan paus dan konsili harus berada di bawah hukum Allah. Oleh karena itu, Paus-paus tidak mempunyai kekuasaan dari Kristus dan Kristus tidak pernah menahbiskan mereka. Wycliffe sampai kepada kecaman yang sangat tajam, yaitu menyebut paus sebagai anti-Kristus.
Wycliffe memberikan tekanan utama kepada Alkitab. Ia menyelidiki Alkitab secara teliti sehingga ia menemukan bahwa sakramen konfirmasi tidak terdapat dalam Alkitab. Ia pun menolak pemujaan kepada orang kudus, relikwi,  dan gambar di dalam gereja.
Wycliffe bersama pengikutnya ditindas di Inggris, namun pandangan-pandangannya mendapat pengikut di Bohemia dengan pemimpinnya Johanes Hus.
II.6.1. Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris
Inggris penuh sentiment terhadap gereja Roma, bahkan pada tahun-tahun 1300-an. Kepemimpinan sekuler sangat kuat di Inggris. Para pangeran, dan banyak orang awam menyesalkan cara gereja merampas kekuasaan dan harta. John Gaunt sering memakai ide-ide dan kesohoran Wycliffe dalam berargumentasi dengan gereja. Sebagai imbalannya, ia memberi Wycliffe semacam perlindungan dari hierarki.
Untuk sementara, Wycliffee merupakan pahlawan yang populer. Para pengikutnya, yakni Lollard, para imam yang menganut kemiskinan para rasul yang mengajarkan kitab suci kepada kalangan umum, mengembara di Inggris dengan injil. Tetapi tatkala pengaruhnya menurun, Wycliffe menjadi kurang berguna bagi para sponsornya, termasuk Lancaster. Peristiwa tahun 1377 mengakibatkan tulisannya dilarang. Oposisi pun semakin intensif. Sementara ia sendiri diamankan dari kekerasan, tulisan-tulisannya dibakar dan ia di copot dari kedudukannya di Oxford serta dilarang menyebarluaskan pandangannya.
Hal ini memberinya waktu untuk menerjemahkan Alkitab. Menurut Wycliffe, setiap orang harus diberi keleluasaan untuk membaca kitab suci dalam bahasanya sendiri. “oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, Alkitab sagat diperlukan bagi semua orang, bukan bagi para imam saja,” tulisnya. Maka meskipun gereja tidak setuju, ia bekerja bersama sarjana lain untuk menerjemahkan Alkitab Bahasa Inggris pertama yang lengkap. Menggunankan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan bahasa Latin), Wycliffe berusaha keras membuat kitab suci agar dapat di mengerti oleh orang-orang sebangsanya. Edisi pertama diterbitkan. Penerbitan kedua yang diselesaikan setelah Wycliffe meninggal, mengalami perbaikan. Namun edisi itu dikenal sebagai “Alkitab Wycliffe”, dan dibagi-bagikan secra illegal oleh para Lallard.
Wycliffe terkena Stroke di gereja dan meninggal pada tanggal 31 Desember 1384. Tiga puluh satu tahun kemudian, Konsili Konstanz mengucilkan dia, pada tahun 1428 kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar, abu-nya disebarkan di sungai Swift.
Tidak ada yang tau idenya secepat apa tersebar diseluruh Eropa. Dampak ajarannya pada para pemimpin di kemudian hari, seperti  Yohanes Hus, memberikan Wycliffe julukan “Bintang Fajar Reformasi”. Ia sendiri berusaha tetap bertahan di Gereja Roma sepanjang hidupnya, tetapi dalam hati dan benak para pendengarnya, Reformasi sudah bergerak secara diam-diam.
II.7.  Desiderius Roterodamus Erasmus
Erasmus adalah seorang sarjana kenamaan pada permulaan abad ke-16. Ia seorang genius, ahli dalam bahasa-bahasa klasik dan Kitab Suci. Erasmus berperawakan kecil, bermata biru, berambut pirang dan dahinya berkerut Suaranya lembut dan enak untuk didengar. Ia menulis dan berbicara dalam bahsa Latin, yaitu bahasa kesarjanaan pada masa itu. Nasihat-nasihatnya selalu diminta oleh para pemimpin Eropa dan ia selalu berkunjung ke mana-mana.
Erasmus adalah seorang sarjana humanis yang terkemuka. Dalam arti tertentu dapat dikatakan bahwa dialah perintis reformasi. Paling tidak edisi perjanjian barunya yang diterbitkan pada tahun 1516 dalam bahasa Yunani mendorong gerakan reformasi Luther.
Erasmus dilahirkan 27 Oktober 1466. Ia adalah anak di luar ikatan pernikahan antara Gerard dengan Margaret. Ayahnya ditahbiskan menjadi imam setelah Erasmus dilahirkan. Pendidikan rendahnya dimulai pada sebuah sekolah Latin di Utrecht dan kemudian di Deventer yang diasuh oleh The Brethrehn Common of life (saudara-saudara Hidup Rukun). Di sini Erasmus memperlihatkan kecapakapannya yang luar biasa.
Pada tahun 1486 Erasmus dimasukkan ke dalam biara Augustinus oleh walinya tanpa kehendak Erasmus sendiri, berhubung ibunya telah meninggal. Ia tinggal dalam biara ini selama lima tahun (1486-1491). Selama masa ini ia menulis sejumlah puisidan karangan prosa lainnya. Dalam tulisan-tulisannya ini sudah tampak kritiknya terhadap keburukan-keburukan gereja dan keburukan hidup para biarawan. Mungkin keburukan tersebut dilihatnya sendiri dalam kehidupan biaranya.
Kemudian Erasmus keluar dari biara dan tahun 1492 ditahbiskan menjadi imam, suatu jabatan yang kurang disukainya, oleh Uskup  Cambray. Memang seumur hidupnya. Erasmus tetap dalam jabatan Imam tersebut, namun ia tidak pernah kawin. Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada model kehidupan humanisme. Atas bantuan Uskup Cambray, Erasmus meneruskan studinya pada Universitas Paris, tahun 1495. Seterusnya ia hidup sebagai seorang humanis sejati.
Tahun 1529 Erasmus meninggalkan Basel dan berpindah ke Freiburg tempat ia tinggal enam tahun lamanya. Ia ingin kembali ke negerinya sendiri dam dalam perjalanan kembali ke Belanda ia singgah di Basel untuk mengawasi percetankan bukunya mengenai Origenes pada percetakan milik Johanis Froben. Di sini Erasmus jatuh sakit dan meniggal dunia di rumah Froben. Kata-katanya yang terakhir adalah:
“O Jesu, misericordia; Domine liberame; Domine fac mie; Domine miserere mei” ( O yesus, kasihanilah aku: Tuhan selamatakanlah aku; Tuhan semuanya telah berakhir; Tuhan kasihanilah aku).
Erasmus adalah seorang tokoh yang berjasa bagi gerakan reformasi gereja yang di pimpin oleh Luther. Luther mempergunakan edisi Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang di keluarkan oleh Erasmus. Erasmus juga mengkritik keburukan-keburukan yang ada dalam gereja dan menasihati paus supaya mengambil tindakan-tindakan pembaruan gereja. Erasmus mau mengadakan pembaruan gereja dengan cara yang lemah lembut bukan dengan jalan kekerasan. Ia mau memperbarui gereja dengan tinggal dalam gereja itu.
Pada tahun 1524 Erasmus menyatakan perlawanan terbuka terhadap Luther dengan menerbitkan tulisanya, Diatribe de Libero Arbitrio (Uraian tentang Kehendak Bebas). Erasmus berpendapat bahwa sekalipun manusia telah jatuh ke dalam dosa manusia tetap memiliki kehendak yang bebas. Kehendak bebas ini tidak berhasil mencapai keselamatan jikalau tidak ditolong dengan rahmat Allah. Luther membalas tulisan Erasmus dengna tulisan yang berjudul De servo Arbitrio (Kehendak yang Terkait). Luther berpendapat bahwa manusia ketika jatuh ke dalam dosa tidak lagi memiliki kehendak yang bebas. Manusia diumpamakan seekor kuda atau keledai. Jalannya kuda atau keledai itu di tentukan oleh penunggangnya. Setelah manusia jatuh kedalam dosa, penunggangnya adalah Iblis dan Iblis menguasai manusia sehingga tidak ada lagi kehendak yang bebas. Luther memang murid Agustinus yang sejati.
Maka Luther dan Erasmus berpisah. Sekalipun demikian Luther tetap menghornati Eresmus dengan kata-katanya dalam sepucuk surat kepada Erasmus pada tahun 1524, anatara lain, “seluruh dunia menjadi saksi atas kesuksesan Anda dalam kesusastraan klasik yang luar biasa itu yang olehnya kami dibawa pada pengertian yang benar tentang Kitab Suci. Inilah rahmat Allah yang terbesar yang dilimpahkan kepada Anda yang menyebabkan kami harus mengucap syukur”. Erasmus hanya mengantarkan gerakan Reformasi di pertengahan jalan, seperti Musa mati di gunung Nebo tanpa masuk ke tanah Kanaan.
II.8.  William Occam
Occam merupakan seorang teolog yang terakhir dari teologi Skolastik. Ia dilahirkan di Occam, Surrey, Inggris pada tahun 1280. Masa kecilnya kurang diketahui. Pada masa mudanya ia menjadi anggota Ordo Fransiskan. Ia ditahbiskan menjadi subdiaken pada tahun 1306. Kemudian selama enam tahun (1309-1315) Occam belajar di Universitas Oxford, mungkin belajar di bawah Duns Scotus seta memperoleh kesarjanaannya di Universitas Paris (1315-1320). Sementara itu karena kecakaoannya, ia dipercayakan untuk memberi kuliah tentang kitab suci (1315-1317).dan kuliah dogmatic dari Sentences, karangan Petrus Lombardus (1317-1319). Tahun-tahun selamjutnya ia menulis tentang Logika sehingga ia juga di kenal sebagai ahli logika serta menulis sebuah komentar atas Sentences.
Komentar Occam atas buku Sentences tersebut menimbulkan kegaduhan. Ia dituduh memiliki 56 buah rumusan yang sesat. Ia diadukan kepada Paus di Avignon sehingga ia dipanggil ke Avigono pada tahun 1324. Paus Yohanes XXII membentuk sebuah komisi yang terdiri dari enam teolog untuk menyelidiki kesesatan Occam. Penyelidikan diadakan selama tiga tahun, namun tidak ada suatu keputusan yang membuktikan bahwa pandangannya sesat.
Pada tahun 1327 Jendral Fransiskan dipanggil ke Avignon  sehubungan dengan pertikaian mengenai asas kemiskinan. Kemudian jendral Fransiskan, Michael dari Cesana, meminta Occam supaya mengadakan penyelidikan tulisan dan konstitusi paus terlebih dahulu mengenai pokok kemiskinan itu. Dari hasil penyelidikannya disimpulkan bahwa konstitusi Paus Yohanes XXII berlawanan dengan Konstitusi paus-paus sebelumnya.
Pada tahun 1328 paus memerintah supaya mengadakan pemilihan jenderal yang baru dalam Ordo Fransiskan. Occam dan Michael merasa keamanan mereka terancam sehingga mereka melarikan diri dari Avignon dan pergi menuju Bavari. Mereka tinggal disana hingga tahun 1347. Occam dikucilkan oleh paus pada tahun 1328 dan dikeluarkan dari ordonya pada tahun 1331.
Dari tempat perlindungannya Occam menghasilkan tulisan-tulisan yang menyerang paus dengan pedas sekali. Ia menyerang kehidupan paus yang mewah. Ia beroendapat bahwa raja(kaisar)  secara lansung menerima kekuasaan dari Allah sehingga tidak diperlukan pengukuhan oleh paus. Gereja adalah sebuah lembaga imamat, penyelenggara sakramen dan menunujukkan kepada manusia jalan keselamatan, tetapi tidak memiliki kekuasaan sipil. Paus dan konsili bisa salah dan hanya Alkitab yang tidak mungkin salah. Kepausan bukan lah suatu lembaga yang dibutuhkan.
Ia juga mengajarkan bahwa akal manusia tidak dapat mengerti pernyataan Allah karena akal tidak dapat memasuki dunia. Manusia hanya dapat menggantungkan kepercayaannya kepada kehendak Allah. Semboyan Occam adalah Aku percaya sebab mustahil.
Pada tahun 1347 Pangeran Luis meninggal dunia. Pada akhirnya, Occam mencari perdamaian dengan paus . paus mengampuninya, namun pengmpunan tersebut baru keluar setelah Occam meninggal pada tahun 1349.  
III. Kesimpulan
Berdasarkan apa yang telah di jelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa, Gereja Khatolik Roma dalam perkembangan perkembangan nya tidak lepas dari semua pemikiran dan karya yang di sumbangkan oleh para teolog-teolog, terkhusus pada sajian ini yang adalah teolog abad pertengahan. Dari setiap tokoh yang kami jelaskan diatas, masing-masing mereka memiliki dampak terhadap perkembangan gereja Khatolok Roma, diantaranya: Aselmus, pemikirannya dalam karyanya yang berjudul Cur Deus Hom, yang juga dikenal sebagai teori pengorbanan. Yaitu yang menjelaskan karya penebusan Kristus, banyak mempengaruhi cara berpikir orang-orang mengenai Kristus.
Thomas Aquinas, yang mana dalam pemikirannya mengenai hubungan rahmat Allah dan kemampuan manusia untuk berbuat baik serta ke tujuh sakramennya, bahkan gereja menggunakan nya sampai sekarang, meskipun mungkin tidak secara menyeluruh. Kemudian juga Franciscus dari Asisi yang sangat dikenal dengan kerendahan hatinya, dan juga memiliki kepedulian yang begitu besar terhadap kaum-kaum miskin, juga sangat berpengaruh terhadap pemikiran-pemikiran orang-orang pada masa itu.
Dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya para teolog juga begitu sering mendapat berbagai penolakan, namun lagi-lagi para teolog ini tetap berjuang demi mempertahankan pemikiran-pemikiran mereka.  Jadi, Gereja Khatolik Roma  abad pertengahan, sangat terpengaruh oleh teolog-teolog pada masa itu, baik dalam hal Spiritual, politik, dan juga pendidikan.
IV. Daftar Pustaka

Aritonang Jan S.dkk, Mereka Juga Citra Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017
Curtis A. Kenneth dkk, 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen, Jakarta: Gunung Mulia,2013
End Th. Van Den, Harta Dalam Bejana, Jakarta: Gunung Mulia, 2013
Jonge C. De, Pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja, Jakarta: Gunung Mulia, 2015
Wellem F.D,Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam sejarah gereja,Jakarta:BPK-GM2003

No comments:

Post a Comment

Kitab Yesaya

Kitab Yesaya I.  Pendahuluan Diantara kitab nabi-nabi, kitab Yesaya tidak hanya merupakan kiab yang terpanjang. Disini kita akan me...