Tulisan-Tulisan Yohanes
Injil Yohanes
A. Isi
Yohanes menggamabarkan perjalanan hidup Yesus dari permulaan sampai Penyaliban dan Kebangkitan, seperti yang di lakukan oleh Injil-injil Sinoptis, tetapi ada beberapa perbedaannya yang khas. Menurut sinoptis- mengikuti pola khas Markus- Yesus pergi ke Yerusalem hanya sekali, yaitu pada akhir pelayanan-Nya, tetapi menurut Yohanes ia pergi ke sama dalam empat kesempataan (2:13; 5:1; 7:10; 12:12).
Ciri Khas lainnya dalam Yohanes ialah hubungan Yesus dengan Yohanes Pembaptis. Menurut Sinoptis Yesus tidak muncul di muka umum sebelum Yohanes dipenjarakan (Mrk. 1:14 dan paralelnya), semestara dalam Yohanes keduanya berkerja pada waktu yang bersamaan. Yohanes 3:24 tampaknya merupakan koreksi yang sengaja terhadap kesan yang diberikan dalam sinoptis. Yohanes 3:22 juga berbicara tentang Yesus yang membaptis, tetapi pernyataan ini ditarik kembali atau disesuaikan dalam 4:2
Kebanyakan nas sinoptis tidak mempunyai kesamaan dengan Yohanes. Mengenai kisah-kisah mujizat yang kita temukan dalam Yohanes hanya pemberian makan kepada lima ribu orang (6:1) dan berjalan di air (6:16) yang mirip dengan mujizat-mujizat dalam sinoptis. Kisah penyembuhan hamba perwira Romawi ( 4:46) telah diperluas kalau dibandingkan dengan Matius 8:5. Dan Lukas 7:1. Namun sebaliknya, Yohanes mengandung empat kisah mujizat yang ada kesamaanya dalam sinoptis (2:1; 5:1; 9:1; 11:1)
B. Sumber-sumber dan titik tolak
Masalah ini masih merupakan perdebatan di antara para ahli. Sesungguhnya dari keseluruhanannya hanya ada dua bagian yang dapat kita pisahkan secara pasti, dan masalah-masalah dalam setiap kasus itu berbeda-beda. Perikop mengenai wanita yang berzinah (7:53-8:11) jelas bersifat sekunder dalam konteks Injil ini. Bukan saja ia tidak muncul dalam serangkaian naskah-naskah salinan Yohanes melainkan juga karena corak “Sinoptisnya”. Selain itu, cerita ini telah disisipkan dalam pelbagai tempat dalam Yohanes di pelbagai salinannya. Sekali-sekali ia bahkan muncul setelah Lukas 21:38. Karena itu, kita dapat mengabaikan perikop ini di sini. Pasal 21 memberikan masalah yang lain. Orang telah menyimpulkan bahwa ini merupakan pasal yang kemudian ditambahkan oleh orang lain, (bnd. Kesimpulan dalam 20:30), namun pasal ini tak pernah di perdebatkan dari sudut kritik teks. Sebaliknya ia diterima sebagai bagian dari ‘intisari’ injil yang ‘kanonis’.
Namun yang tampak mencolok ialah mujizat-mujizat lain yang ditemukan dalam Yohanes , yang tidak ada dalam sinoptis, muncul sebelum 12:37 mujizat terhadap orang lumpuh (5:1), penyembuhan lelaki yang buta sejak lahir (9:1) dan kebangkitan Lazarus (11:1). Dibandingkan dengan mujizat-mujizat yang dicatat dalam sinoptis, semuanya ini dikisahkan secara lebih luas. Juga mujizat-mujizat ini mengungkapkan pandangan yang berbeda dengan pandangan yang biasanya diungkapkan dalam Yohanes, dalam arti bahwa mujizat-mujizat itu tidak mengungkapkan iman yang ditimbulkan oleh mujizat, melainkan oleh kata-kata dan pemberitaan Yesus.
Pengarang Yohanes menyajikan Yesus sebagai Dia yang diutus. Apakah ia menggunakan sumber lebih lanjut di sini- Butlmann mengusulkan sebuah ‘sumber ucapan/ wacana’- sama sekali tidak begitu pasti dibandingkan dengan penggunaan ‘sumber tentang tanda-tanda’. Sama sekali tidak begitu perlu untuk menyimpulkan bahwa memang ada sumber demikian, kendatipun ‘ucapan-ucapan pernyataan’ – Aku adalah’. Setelah undangan atau pangilan untuk pengambilan keputusan, muncul ‘ucapan-ucapan krisis’ yang mengandung janji atau peringatan atau kedua-duanya sekaligus. Kita menemukan pola ini, misalnya dalam pasal 3,5,10 dan 15. Mungkin juga bahwa inilah perangkat gaya si penginjil (yang diambil dari tempat lain). Dengan itu ia mengungkapkan sudut pandang melawan konsep tradisional.
C. Suntingan Gereja
Sejuah kita setelah membahas titik tolak si penginjil sendiri, dan kini kita harus beralih kepada proses penyuntingan yang belakangan dialami karya ini. Hal ini tidak hanya menyangkut pasal 21, tetapi bilakita mulai dengan membahas pasal ini maka kelak kita akan mampu menelusuri proses penyutingan dalam pasal 1-20. Kita perlu mencatat pertama-tama bahwa gaya dalam pasal 21 kebanyakan sama dengan gaya pasal 1-20. Dengan kata lain, gayanya bukanlah ciri khas si pengarang pasal 1-20, melainkan kita lebih merupakan gaya sebuah kalangan atau ‘aliran’ yang juga kita temukan dalam surat-surat Yohanes. Mungkin dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pasal 1-20 bukanlah karya satu orang saja yang mencoba, dalam kerangka yang disusunya, membahas masalah hangat dari masanya, tetapi bahwa orang ini merupakan bagian dari sebuah ‘komunitas ‘ atau paling tidak memliki suatu lingkungnan murid.
Jelas bahwa pasal 21 adalah tambahan. Dalam Yohanes 20- seperti halnya dalam Lukas 24- penampakan-penampakan Tuhan yang bangkit terjadi secara terbatas dalam dan di sekitar Yerusalem. Sebaliknya, pasal 21 berbicara tentang penampakan di Laut Tiberias, dan dengan demikian memunculkan pertanyaan apakah hal itu dimaksudkan untuk mewakili suatu kompromi dengan tradisi yang berbicara tentang penampakan-penampakan di Galilea (Mat. 28:16; untuk. Mrk. 16:7, lih bag.12).
Kita pun dapat melihat dasar yang sama dalam sejumlah nas di dalam pasal 1-20. Bila itu secara khusus ditekankan dalam 3:24 bahwa Yohanes Pembaptis belum lagi dipenjarakan, maka itu merupakan penegasan dari ketepatan kisah itu, dibandingkan dengan sinopti. Namun pernyataan bahwa Yesus membaptis (3:22), tak dapat dimodifikasikan dalam 4:2. Ayat ini jelasnya merupakan penyisipan waktu penyuntingan (4:3 pada mulanya langsung mengikuti 4:1), dan kemungkinan tergolong pada ‘Stratum’ (lapisan) yang sama seperti yang dapat kita lihat khususnya dari nas-nas di mana terdapat suatu kesenjangan bukan saja antara pernyataan-pernyataan itu sendiri dan gagasan yang mendasari karya tersebut.
Banyak dari pertanyaan terinci harus dibiarkan terbuka untuk sementara waktu, seperti misalnya pertanyaan apakah peraturan teks yang kita miliki ini memang asli. Kemungkinannya memang tidak demikian. Di dalam ucapan-ucapan perpisahan ( psl. 14-16), kesimpulan 14:31 kedengaran aneh, dan susulannya bukanlah 15:1 melainkan 18:1. Apakah 18:1 pada mulanya langsung muncul setelah 14:31? Salah satu contoh dari sekian banyak yang lainnya ialah bahwa situasi serupa pun kita temukan dalam 6:1. Ayat ini hanya dapat langsung muncul setelah 4:54, yang berarti bahwa pasal 5 tidaklah berada dalam kedudukan yang asli.
D. Masalah Kepengarangan
Tradisi gereja belakang menyebut Yohanes anak Zebedeus sebagai pengarangnya. Apakah dalam hal ini Yustinus benar berpandang demikian, tidaklah dapat dipastikan. Ireneus dengan gambling menyamankan murid yang dikasihi ini dengan Yohanes dan menyatakan bahwa Efesus adalah asal mula injil ini. Bersama dengan tradisi ini kita sering menemukan pendapat bahwa Injil ini merupakan karya seseorang bernama Yohanes ‘si penatua’. Kita menjumpai nama ini dalam acuan oleh Papias yang di simpan oleh Eusebius, yang menyebutkan nama-nam Yohanes yang sang murid dan Yohanes si penatua bersama-sama, tetapi karena Eusebius mengambil sikap yang kritis terhadap pernyataan-pernyataan Papias, dan jelas tidak memproduksikan semuanya, kita tidak dapat pastikan apa yang dimaksudkan Papias.
Tradisi gereja mula-mula memperlihatkan minat yang besar terhadap penyataan ini, seperti yang dapat kita lihat dalam suatu pernyataan- meskipun secara historis tak ada nilainya- dalam Kanon Muratori. Menurut kanon itu Yohanes diminta oleh rekan-rekan muridnya (rekan-rekan rasul lain) untuk menuliskan kenang-kenangannya. Setelah berpuasa tiga hari Andreas hal itu. Hasilnya adalah sebuah buku yang dianggap telah diterbitkan dalam nama Yohanes tetapi pada saat yang sama berdasarakan otoritas semua rasul.
Gagasan teologis yang mendasari karya ini sebagai keseluruhan tidak memberikan kemungkinan bahwa ia didasarkan pada kesaksian dari seorang saksi mata, dan dengan jelas menunjukkan bahwa ia termasuk pada periode yang kemudian. Satu-satunya titik tolak kita ialah kenyataan bahwa si pengarang menganggap dirinya sendiri sebagai seorang murid yang Yesus kasihi dan yang melalui pergeseran perspektif yang telah kita catat sebelumnya memiliki tempat khusus di dalam karya itu sendiri. Penyuting gerejalah yagn pertama-tama memungkinkan untuk menganggap dia sebagai figure yang sesungguhnya di antara kalangan para murid. Karya mungkin ditulis di timur (daerah Siria) menjelang akhir abad pertama.
SURAT YOHANES YANG PERTAMA
A. Bentuk Sastaranya
Jelas kita tidak dapat menyebut 1 Yohanes sebagai sebuah ‘surat’, karena ia tidak memiliki semua rincian konkret yang akan membenarkan penyebutan demikian. Di pihak lain, cukup jeals bahwa si penggarang sering membayangkan dalam benaknya suatu kalangan pembaca yang ia alamatkan secara langsung (2:1, 7-8, 12 dyb. 18, 21, 26, dll). Dokumen ini telah di sebut ‘homili’ ‘surat peringatan’, ‘trakat’ atau ‘manifesto’, tetapi tak satu pun dari semua ini benar-benar merupakan gambaran yang tepat. Ia merupakan suatu dokumen yang bentuknya tidak mempunyai kesejajaran di tempat lain mana pun. Apa yang dapat kita katakan hanyalah bahwa si pengarang berusaha menyapa para pembaca dengan situasi khusus mereka yang dikenalinya. Ini berarti penulisannya berkali-kali mendekati bentuk sebuah surat, tetapi penulis tidak benar-benar menulis surat.
B. Keadaan para pembacanya
Dari serangan yang ia lakukan terhadap mereka kita dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang Gnostik yang menyangkal inkarnasi Yesus Kristus yang sebenarnya (4:2-3; bnd. 2:22). Dari sini muncul pendapat bahwa salib tak mungkin punya arti bagi mereka (bnd. 1:7 dyb.; 2:1-2; 4:10), mereka jelas menolak Perjamuan Kudus (5:6), tetapi baptisan tidak. Maka gambaran yang paling tepat dari para penyesat ini ialah menyebut mereka Doketis. Kendatipun adanas 2:15 dyb. Dan 4:5, kita tak dapat memastikan apakah mereka juga libertinis, tetapi tampaknya mereka menganggap diri tidak berdosa (1:8) mengingat mereka sudah memiliki Roh (4:1).
C. Kesatuan Dokumennya
Namun juga telah, bahwa tampaknya muncul sejumlah kontradiksi pada bahanya (misalnya, hubungan antara dosa dan ketidakberdosaan dilihat secara dialektis dalam 1:5 dyb., tetapi 5:16-17 sebaliknya berbicara tentang dua jenis doa ). Perbedaan-perbedaan gaya juga sudah dicatat. Akibatnya, pelbagai usaha telah dilakukan untuk menelusuri model sipengarang dengan jalan memisah-misahkan sumber-sumbernya, namun ada perbedaan pendapat yang besar di antara pertemuan- pertemuannya.
Sudah tentu keliru bila menggunakan ketidakpastian mengenai penemuan-penemuan ini sebagai argument untuk melawan penggunaan metode ini. Pertanyaannya ialah apakah kita tidak terlalu menyederhanakan masalah dengan mencoba memecahkannya sepenuhnya – atau terutama sekali- dengan metode sastra. Kita tak dapat sungguh-sungguh memperdebatkan bahwa si pengarang tergantung pada tradisi-tradisi yang telah disampaikan kepadanya, tetapi mungkin sekali ia menyesuaikannya secara bebas. Bila kita ingat bahwa ia bukanlah orang yang amat sistematis- seperti yang tampaknya ditujukan oleh tiadanya struktur yang umum- mungkin kita dapat menyimpulkan bahwa variasi dalam gaya itu muncul dari si pengarang sendiri. Dengan kata lain, ia seorang tokoh Gereja dan pengkhotbah yang praktis, yang dengan sukacita membangun sebuah jabatan dari ungkapan-ungkapan yang umum di jemaatnya guna menyeberang dari satu pokok kepada pokok berikutnya, tetapi yang berhasil secara tiba-tiba kembali lagi ke tempat pertama ia mulai.
D. Kedudukan Teologi Si Pengarang
Dokumen ini menunjukkan hubungan erat dengan Injil Yohanes, tetapi pertanyaannya ialah seberapa jauh kita bisa menerapkan hubungan antara kedua dokumen itu satu sama lain. Pasal 5:6 memberikan petunjuk pertama- dan juga yang amat jelas. Baptisan dan perjamuan kudus dibicarakan di sini dengan cara yang sama seperti dalam ‘redaksi Gereja’ dari Injil Yohanes (Yoh. 6:51b-58; 19:34b-35; bnd. bag. 24,3). Maka si pengarang tampaknya tergabung dalam kelompok yang menggabungkan pandangan Yohanes- yang asli- ke dalam tradisi Gereja. Betapapun, ia adalah ‘pasca Yohanes’, seperti dapat kita lihat- antara lain- dari pernyataan yang berbeda mengenai masalah-masalah yang muncul. Sementara Yohanes tertarik dengan alternatif antara iman atau ketidakpercayaan, dalam 1 Yohanes alternatifnya ialah iman atau ajaran sesat. Hubungan antara Paulus dan surat-surat pseudo-Paulus, yang mengusulkan bahwa 1 Yohanes harus di pandang sebagai sebuah ‘surat penggembalaan Yohanes’, yang memperlihatkan sejumlah ciri katolik Purba.
E. Pesan Si Pengarang
Yang mencolok ialah bahwa si pengarang tidak mendefinisikan perilaku Kristen secara terinci, melainkan membatasinya pertama-tama pada mengasihi sesama. Jadi Yohanes 5:24(‘… sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup’) dilanjutkan dalam 1 Yohanes 3:14 (‘Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup), yaitu karena kita mengasihi saudara kita.’ Hal ini tidak mengacu kepada ‘sesama’ kita, melainkan- bertentangan dengan mereka yang tetap tinggal dalam Gereja. Karena merekalah yang telah dilahirkan dari Allah (5:1). Dengan alasan yang sama, bukan semata-mata iman Kristen, melainkan iman ‘kita’ yang mengalahkan dunia (5:4). Iman yang ‘ortodoks’ mengaku bahwa Yesus adalah anak Allah (5:5) , . dan buktinya ialah bahwa seseorang akan tetap setia kepada Gereja (bnd. 2:19). Ia yang memisahkan diri dari Gereja melakukan ‘dosa yang mendatangkan maut’ (5:16).
Namun bagaimana kita dapat mempertemukan ini dengan pernyataan-pernyataan lain yang menggambarkan bahwa klaim ketidakberdosaan ini sebagai ajaran sesat (1:8, 10) dan yang berbicara tentang pengampunan dosa sebagai sesuatu yang perlu- dan yang berbicara tentang pengampunan dosa sebagai sesuatu yang perlu- dan juga mungkin- bahkan bagi orang-orang Kristen (1:9; bnd. 5:16a)? jawabanya diberikan dalam 3:10, bersama-sama dengan 3:9: bagi setiap orang yang lahir dari Allah, tidak ada lagi dosa, karena ia tetap tinggal sebagai anak Allah dan kata lain, dengan tetap tinggal di dalam Gereja. Memang benar bahwa gagasan Gnostik tentang ketidakberdosaan itu diambilnya tetapi pada saat yang sama dibatasi oleh penekanan bahwa sejauh menyangkut iman yang ortodoks dosa tak ada lagi sejauh orang uang bersangkutan tidak murtad. Bila murtad, itulah bukti bahwa ia tidak sungguh-sungguh lahir dari Allah, dan ia telah melakukan ‘ dosa yang datangkan maut’ (5:16b).
Akan tetapi, ada juga dosa-namun hanya dalam Gereja yang ‘ortodoks’- yang tidak perlu mendatangkan maut. Para pembaca dihimbau bukan saja agar tinggal di dalam Gereja, tetapi juga mempraktekkan kasih di dalamnya (3:17-18). Segala kejahatan adalah dosa (5:17), dan pelanggaran hukum juga dosa (3:40). Tidak datangkan maut, karena hal itu dapat diakui dan diampuni (1:9). Ia yang menjalankan perintah dan melakukan apa yang berkenan kapada Allah (3:22) akan tinggal dalam kekekalan,
F. Kepengarangan dan Waktu serta Tempat Penyusunannya
hal yang sama pun berlaku dengan 1Yohanes. Acuannya dengan melihat dalam 1:1-4 tal dapat diambil sebagai bukti bahwa si pengarang adalah saksi mata, seperti juga halnya dengan 3:6 (bnd. juga 3Yohanes.11). Si pengarang meneruskan tradisi-tradisi Yohanes, tetapi ia pun memberi suatu sentuhan kegerejaan- seperti yang terjadi dengan ‘ redaksi Gereja’ dalam Yohanes. Maka kita dapat mengatakan bahwa jelas ia termasuk pada suatu ‘aliran’ Yohanes.
G. ‘Comma Johanneum’
Dalam sejumlah naskah salinan- terutama naskah-naskah Latin purba- kita menemukan sebuah keterangan yang ditambahkan pada 5:7-8, yang mengandung sebuah penafsiran Trinitastis terhadap nas itu. Apa yang disebut dengan ‘Comma’ (bagian) ini jelas tidaklah asli dan tak punya relevansi untuk penafsiran 1 Yohanes, meskipun hal ini amat menarik dari sudut pandang sejarah dogma.
Surat Yohanes Yang Kedua dan Ketiga
A. Bentuk Sastra dan Isi
Dalam pembukaannya, seorang presbuteros (penatua) disebutkan. Penenutup dari kedua surat ini mengandung salam, yang didahului oleh suatu ungkapan yang berbunyi seperti sebuah rumusan baku. Di situ singkatnya dokumen itu disebabkan karena pengarang bermaksud melakukan suatu kunjungan pribadi (2Yoh. 12;3 Yoh. 13-14).
2 Yohanes dialamatkan kepada salah satu kuria (wanita) (“wanita” di sini dipakai sebagai suatu sebutan untuk jemaat; Penyunting) yang terpilih dan anak-anaknya (1), dengan kata lain kepada sebuah jemaat. Kita diberitahukan bahwa mereka dikasihi bukan saja oleh si pengarang tetapi juga oleh semua orang yang mengenal kebenaran itu, yaitu oleh semua orang Kristen sejati. Setelah salamnya (3) si ‘penatua’ menyatakan bahwa ia telah mengenal anggota-anggota tertentu dari jemaat yang ia kirimi surat, yang berjalan dalam kebenaran (4), dan ia menghimbau mereka untuk mengikuti perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya, (5). Setelah sekali lagi menjelaskan apa artinya itu (6), ia nya, (ia berbicara tentang para penyesat Gnostik (7), yang harus diwaspadai gereja (8). Siapapun yang tidak tinggal dalam ajaran itu memiliki Bapa maupun Anak (9). Bila para penyesat demikian berhasil masuk ke dalam Gereja, mereka tak boleh diberikan sambutan keramahtamahan, bahkan tak usah diberikan salam, karena dengan memberikan mereka salam, orang akan menghubungkan dirinya dengan orang-orang ini (10-11).
3 Yohanes dialamatkan kepada seseorang bernama Gayus (1). Setelah mengungkapkan salam yang penuh doa bagi kesejahteraan Gayus (2), si pengarang menyatakan betapa gembiranya ia karena beberapa saudara telah memberikan laporan yang amat menggembirakan mengenai dia (3-4). Orang-orang ini tampaknya telah diterima dengan ramah oleh Gayus, karena si pengarang kini memintanya agar terus melakukan hal yang sama (5-8). Permintaan ini perlu diajukannya karena Diotrefes, yang jelas merupakan pemimpin gereja itu, tidak menyambut surat yang ia terima dari si penatua (9). Ia pun terlibat dalam fitnah terhadap si penatua itu, menolak untuk menerima saudara-saudara yang datang dan mengusir dari gereja mereka yang menyambutnya (10). Gayus dihimbau untuk tidak meniru yang jahat melainkan yang baik, barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat ia tidak melihat Allah (11). Setelah memuji seseorang yang bernama Demetrius, si penataua itu menutup suratnya dengan berita bahwa ia berharap unutk segera melakukan kunjungan dan kemudian salam terakhirnya (13-15).
B. Keadaannya
Kendatipun kesan pertama melihat surat 2 Yohanes menunjukkan keperhatian dengan masalah-masalah ‘dogmatis’ dan 3 Yohanes dengan ‘tata Gereja’ atau disiplin, pernyataan yang segera muncul ialah apakah kita memang dapat menarik perbedaan yang begitu tajam. Dalam 2 Yohanes, pertentangan dogmatis akhirnya membawa kepada langkah yang sama seperti yang kita temukan dalam 3 Yohanes (penolakan pemberian pelayanan); dan dalam 3 Yohanes keluhan tentang penolakan Diotrefes untuk menerima ‘beberapa saudara’ disusul oleh himbauan kepada Gayus agar tidak meniru ‘yang jahat’ (yaitu apa yang telah dilakukan Diotrefes-11). Hal ini bisa saja mengacu kepada caranya bertindak, dan segera diberikan sebuah makna teologis, karena ‘barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah’. Hal ini paling tidak mengandung gema dari motif-motif yang kita temukan dalam 1 Yohanes. Perilaku yang tepat pasti mencakup kasih kepada saudara-saudara. Dengan memisahkan diri dari jemaat, mereka yang menganut ajaran sesat memperlihatkan kurangnya kasih persaudaraan-dan dengan demikian membuktikan bahwa mereka bukan berasal dari Allah (bnd. bag. 26,5).
C. Kepengarangan, Waktu dan Tempat Penyusun
Bahwa penyebutan ini tidak berarti ‘rasul Yohanes’, sudah jelas bukan saja dari pengamatan-pengamatan sebelumnya (bnd. bag. 24,4 dan 25,6), tetapi juga dari kenyataan bahwa sulit bagi kita memahami bagaimana Diotrefes dapat menolak wibawa yang demikian dengan begitu berhasil di gerejanya. Juga tidaklah mungkin bahwa dalam keadaan-keadaan seperti ini si pengarang tidak menggunakan kesempatan menekankan wibawa kerasulannya. Dalam 2 Yohanes ia harus mencapai tujuannya dengan amat hati-hati, tetapi dalam 3 Yohanes tampaknya sedikit yang dapat ia lakukan. Tentu suatu pemecahan yang agak tak mungkin bila diusulkan bahwa nama itu telah lenyap pada saat yang sama? dari kedua surat itu. Penatua itu tentunya telah dikenal oleh para dikenal oleh para pembaca suratnya. Karena itu diragukan seberapa banyak kita harus menekankan jabatan itu dalam arti yang konstitusional di sini.

No comments:
Post a Comment